Many Politic dalam Pemilu

Pemilu Legislatif yang hanya tinggal menghitung hari dimanfaatkan bagi beberapa kandidat Dewan Perwakilan Rakyat. Berbagai cara dipaksi dalam memperkenalkan sang Legislator, mulai dari pemasangan baliho, spanduk hingga stiker yang berisikan berbagai statement perjuangan, nomor urut dan partai pengusung serta foto. Entah kenapa, apakah para calon wakil rakyat kita merupakan orang-orang yang tidak punya popularitas? atau memang cara inilah yang paling efektif dalam rangka memperkenalkan diri kepada masyarakat. Mungkin pertanyaan mendasar bagi para calon, sejauh ini di mana dan apa yang telah dilakukan (track record), kenapa kemudian saat Pemilu baru muncul dan ingin berjuang, jangan-jangan hanya berharap dapat kursi empuk di gedung dewan. Mudah-mudahan tidak demikian.

Dalam momen seperti ini, Masyarakat sering kali dalam praktiknya hanya dijadikan tumbal pesta demokrasi. Jika mau jujur seberapa persenkah keyakinan masyarakat, dikemudian hari para anggota dewan yang terpilih nanti benar-benar memperjuangkan aspirasinya? Indikasi rakyat bakal dikibuli lagi masih ada. Para pengamat politikus dalam berbagai media massa banyak yang memprediksi bahwa pada Pemilu 2009 many politic masih sangat mendominasi dalam rangka meraih suara. Jika saja hal ini benar-benar terjadi, ini merupakan pembunuhan karakter terhadap demokrasi dan pembodohan terhadap masyarakat. Perlu disadari, meraih suara dengan jalan many politic selain melanggar UU Pemilu juga berakibat fatal terhadap kehidupan demokrasi.

Menjadi wakil rakyat bukanlah pekerjaan yang mudah dijalani. Dibutuhkan kemampuan yang benar-benar dapat mengakomoder seluruh kepantingan, yang tidak hanya mengatasnamakan rakyat. Artinya, paham dan peka akan kebutuhan masyarakat secara luas dan merealisasikan dalam bentuk kerja/pembangunan yang riel dan bukan semata-mata atas kepentingan pribadi dan golongan. Hal ini meski dijalankan, bila tak mau dikatakan membohongi masyarakat. []

0 komentar:

Posting Komentar